1. Daulah Umayyah Periode Damaskus
Sebab Berdirinya Daulah Umayyah
- Awal Mula: Berdirinya dinasti ini berawal dari perpecahan umat Islam setelah wafatnya Khalifah Utsman bin Affan dan naiknya Ali bin Abi Thalib. Kelompok Muawiyah bin Abi Sufyan (Gubernur Suriah/Damaskus) tidak puas dengan kebijakan Khalifah Ali dalam menangani kasus pembunuhan Utsman.
- Perang Siffin & Tahkim: Perselisihan ini memuncak pada Perang Siffin yang diakhiri dengan peristiwa Tahkim (arbitrase). Hasil tahkim tidak memuaskan sebagian pihak, sehingga muncul golongan Khawarij yang akhirnya membunuh Khalifah Ali bin Abi Thalib.
- 'Amul Jama'ah: Setelah Ali wafat, putranya Hasan bin Ali sempat memimpin selama beberapa bulan. Namun, untuk mencegah pertumpahan darah, Hasan menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah pada 41 H / 661 M. Peristiwa persatuan ini dikenal dengan sebutan 'Amul Jama'ah (Tahun Persatuan Umat).
- Syarat Penyerahan: Hasan memberikan syarat kepada Muawiyah, antara lain: menjaga nama baik keluarga Ali, menjamin keselamatan Hasan dan keluarga, kekhalifahan setelah Muawiyah harus diputuskan lewat musyawarah, dan Muawiyah harus membayar pajak tanah Ahwaz sebesar 2 juta dirham kepada adik Hasan (Husen).
Perluasan Wilayah
- Pada masa pemerintahan Daulah Umayyah, Islam mencapai wilayah yang paling luas dalam sejarahnya.
- Era Muawiyah: Memperluas wilayah dakwah ke tiga area sangat strategis dan subur: Afrika Utara, India, dan Byzantium.
- Era Al-Walid bin Abdul Malik: Pada tahun 711 M, khalifah mengirimkan pasukan di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad menyeberangi selat untuk menaklukkan wilayah Andalusia (Spanyol) di Eropa.
- Tokoh Perluasan: Uqbah bin Nafi dan Musa bin Nusair (Afrika Utara), Abdullah bin Abi Sara (India), dan Saad bin Abi Waqash (Tiongkok dan Asia Tenggara).
Reformasi Pemimpin Daulah
Beberapa kebijakan dan reformasi penting dari khalifah-khalifah terkenal:
- Muawiyah bin Abi Sufyan: Membentuk departemen dan duta ke berbagai negara, mempekerjakan tenaga profesional dari orang-orang Byzantium untuk mengatur administrasi keuangan negara.
- Marwan bin Al-Hakam: Menertibkan alat takaran/timbangan dan menciptakan mata uang pertama secara resmi sebagai alat tukar (menggantikan sistem barter).
- Al-Walid bin Abdul Malik: Memfokuskan pada kesejahteraan dan pembangunan, serta perluasan wilayah ke Eropa (Spanyol). Ia mengirim 12.000 pasukan untuk membantu mengusir pemberontak Gothic di Eropa.
- Umar bin Abdul Aziz: Melakukan reformasi perpajakan yang adil dengan memberlakukan pajak tanah berdasarkan persamaan antara muslim Arab dan non-Arab. Ia memprioritaskan agama di atas politik, menyiarkan Islam secara damai, menyejahterakan rakyat (sampai sulit mencari penerima zakat), dan menginisiasi pembukuan Hadis.
Perkembangan Arsitektur
- Pembangunan fisik berkembang pesat dengan perpindahan pusat pemerintahan ke luar Jazirah Arab (ke Damaskus).
- Seni rupa banyak dipengaruhi oleh kesenian Byzantium (arsitektur Kristen awal seperti bentuk basilika).
- Bangunan penting: Mengubah Gereja St. John di Damaskus menjadi Masjid (Masjid Umayyah), merenovasi Masjid Nabawi, dan membangun Masjid Kubah Batu (Qubbat As-Sakhrah) di Yerusalem.
- Istana: Membangun Istana Qusayr Amrah (Istana Merah) dan Istana Al-Mustafa sebagai tempat peristirahatan para khalifah di padang pasir.
- Seni ukir dan pahat berkembang, di mana ayat Al-Qur'an, hadis, dan syair diukir pada tembok masjid dan istana.
Faktor Keruntuhan
(Catatan: Detail keruntuhan ini dijelaskan pada awal bab Abbasiyah)
- Moral Pemimpin yang Buruk: Banyak pemimpin Daulah Umayyah pada fase akhir memiliki moral yang buruk, gemar berfoya-foya, korupsi, berpesta, dan tidak cakap mengurus negara.
- Proses Arabisasi & Diskriminasi: Pemerintahan sangat fanatik terhadap keturunan Arab (Arab oriented). Mereka kurang melibatkan kaum non-Arab (Mawali), golongan Syiah, dan Khawarij dalam pemerintahan.
- Masalah Ekonomi: Mewajibkan pembayaran denda kepada bangsa yang dikuasainya dan jizyah (pajak) bagi para mualaf, yang menimbulkan ketidakpuasan luas.
Perubahan Sistem Pemerintahan
- Muawiyah bin Abi Sufyan mengubah sistem pemerintahan dari yang semula Demokrasi (musyawarah) pada masa Khulafaur Rasyidin menjadi sistem Monarki (Kerajaan turun-temurun).
- Pusat pemerintahan dipindahkan dari Madinah ke Damaskus (Suriah).
- Ciri sistem ini: Raja adalah penguasa tunggal yang wajib ditaati, raja memiliki hak penuh atas hukum, rakyat berfungsi sebagai pembantu raja, dan adanya pengangkatan "Putra Mahkota".
Makna Kebijakan Pemimpin Daulah
- Kebijakan pemerintahan Daulah Umayyah menjadi tonggak penting stabilisasi politik Islam. Stabilitas ini menjadi modal dasar bagi pengembangan wilayah dan ilmu pengetahuan.
- Pendekatan diplomasi dan toleransi (seperti pada era Umar bin Abdul Aziz dan Al-Walid) menunjukkan bahwa Islam dapat diterima dan membawa kesejahteraan tanpa paksaan berlebihan.
Analisis Runtuhnya Dinasti
- Ketidakpuasan berbagai golongan (Mawali, Syiah) memicu munculnya gerakan perlawanan dari kelompok keturunan Bani Abbas yang diorganisasi oleh Muhammad bin Ali di Kuffah.
- Perlawanan ini didukung oleh tokoh militer asal Khurasan, Abu Muslim Al-Khurasani, dan dipimpin oleh Abul Abbas As-Saffah.
- Kekuasaan Umayyah di Damaskus runtuh secara de facto setelah tewasnya khalifah terakhir, Marwan bin Muhammad, di Mesir pada tahun 132 H / 750 M, yang kemudian digantikan oleh Daulah Abbasiyah.
2. Daulah Umayyah Andalus (Spanyol)
Berdirinya Daulah Umayyah Andalus
- Awalnya, Islam masuk ke Andalusia pada era Al-Walid bin Abdul Malik (Umayyah Damaskus) lewat Thariq bin Ziyad (711 M). Wilayah ini awalnya hanyalah sebuah provinsi (Keamiran).
- Setelah Daulah Umayyah di Damaskus dihancurkan oleh Abbasiyah, seorang keturunan Umayyah bernama Abdurrahman Ad-Dakhil (Abdurrahman I) berhasil melarikan diri ke Andalusia.
- Ia mengambil alih kekuasaan dari gubernur Yusuf Al-Fihr dan mendirikan Daulah Umayyah di Andalusia (756 M) sebagai kelanjutan kekuasaan leluhurnya yang telah runtuh di Timur.
Makna Kekhalifahan Andalus
- Pada periode ketiga (912-1013 M), penguasa Andalusia yaitu Abdurrahman III (An-Nasir) mulai menggunakan gelar Khalifah.
- Hal ini dilakukan karena merasa kekuasaannya sudah sangat kuat dan mampu menyaingi kekhalifahan Daulah Abbasiyah di Baghdad. Masa ini adalah puncak kejayaan peradaban Islam di Eropa.
Pusat Ilmu Cordoba
- Cordoba menjadi pusat ilmu pengetahuan di dunia Islam yang mampu menyaingi Baghdad.
- Abdurrahman An-Nasir mendirikan Universitas Cordoba yang memiliki koleksi ratusan ribu buku di perpustakaannya.
- Banyak pelajar dan pencari ilmu dari Eropa Kristen yang datang ke Cordoba untuk mempelajari ilmu-ilmu yang dikembangkan oleh ilmuwan muslim.
Arsitektur Islam
- Pembangunan di Andalusia sangat megah dan menonjol, menghiasi kota dengan taman dan gedung megah.
- Cordoba: Terdapat Al-Qasr Al-Kabir (gedung-gedung megah di dalamnya), Rusyafat (istana dikelilingi taman), Masjid Agung Cordoba, dan pembangunan Madinah Az-Zahra (kota yang bercahaya) yang disebut sebagai keajaiban kesenian Islam.
- Granada: Dibangunnya istana yang indah dan megah di atas bukit bernama Al-Hamra (Istana Merah) oleh Bani Ahmar.
Toleransi Beragama
- Masyarakat Islam Andalusia sangat beragam, terdiri dari: Al-Muwalladun (orang Andalusia asli yang masuk Islam), Arab, Barbar, As-Shaqalibah (tawanan), serta kaum Yahudi dan Kristen.
- Muncul kelompok Kristen Muzareb, yaitu orang Kristen yang sangat tertarik dan mengadopsi budaya serta tata bahasa Arab. Perbedaan ini melebur dan berkontribusi melahirkan pemikiran dan peradaban yang maju secara berdampingan.
Peran Ilmuwan
Ilmu pengetahuan berkembang pesat. Tokoh pentingnya meliputi:
- Filsafat: Abu Bakar Muhammad bin Yahya (Ibnu Bajjah), Abu Bakar Ibnu Tufail, dan Ibnu Rusyd (penulis Bidayatul Mujtahid yang juga ahli fikih).
- Kedokteran: Abu Al-Qasim Az-Zahrawi (Bapak Ilmu Bedah Modern), Ibnu Zuhri (Avenzoar).
- Astronomi/Sains: Abbas Ibnu Firnas (penemu cikal bakal pesawat terbang/parasut, tabel astronomi, jam air) dan Abu Ishak Ibrahim Az-Zarqali.
- Sejarah: Ibnu Khaldun (penulis Muqaddimah), Ibnu Batutah.
Kemajuan Pertanian
- (Tersirat di teks dan Latihan Bab): Penguasa Andalusia tidak hanya membangun arsitektur, tapi juga menata irigasi. Mereka membangun jembatan di atas sungai di ibu kota, serta taman-taman yang dihiasi pepohonan dan bunga-bunga yang diimpor dari Timur. Termasuk pengembangan sistem pengairan/kanal dan perkebunan.
Sebab Kemunduran
- Tidak Jelasnya Sistem Peralihan Kekuasaan: Menyebabkan perebutan tahta antar pewaris, memunculkan kerajaan-kerajaan kecil (Muluk Ath-Thawaif).
- Tidak Adanya Ideologi Pemersatu: Sikap etnis Arab yang enggan menerima para mualaf (non-Arab) secara penuh merusak perdamaian dan memicu perselisihan etnis.
- Keterpurukan Ekonomi: Para penguasa terlalu fokus pada ilmu pengetahuan dan pembangunan, tapi abai pada ekonomi yang membuat kesulitan militer dan politik.
- Wilayah yang Kecil dan Terpencil: Letaknya di Eropa (jauh dari pusat Islam di Timur Tengah) membuatnya terabaikan dan rentan terhadap kebangkitan gerakan Reconquista oleh kaum Kristen Spanyol.
Pengaruh ke Eropa
- Kemajuan peradaban Islam di Andalusia membawa dampak positif bagi Eropa (Renaisans).
- Karya-karya ilmiah, kedokteran, dan filsafat Yunani yang telah diterjemahkan dan disempurnakan oleh cendekiawan muslim di Andalusia menjadi sumber pencerahan utama bagi bangsa Barat yang saat itu sedang dalam masa kegelapan.
Hikmah Peradaban
- Menyadari pentingnya kegigihan, semangat menuntut ilmu, literasi, toleransi antar-umat beragama, dan membangun stabilitas politik. Runtuhnya Andalusia mengajarkan bahaya dari perpecahan internal, kelemahan ideologi pemersatu, serta pengabaian terhadap kemajuan ekonomi/militer negara.
3. Daulah Abbasiyah
Perbedaan Umayyah–Abbasiyah
- Umayyah (Damaskus): Bersifat Arab-oriented (fanatik terhadap keturunan Arab), menempatkan bangsa Arab di atas bangsa lain (Mawali/non-Arab), dan sistem pemerintahannya bersifat sentralisasi mutlak.
- Abbasiyah: Lebih bersifat demokratis dan tidak fanatik Arab. Sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Persia dan Turki. Bangsa non-Arab (seperti keluarga Barmak dari Persia) diangkat menjadi pejabat tinggi negara. Sistem pemerintahannya bersifat Desentralisasi.
Makna Baitul Hikmah
- Dibangun pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid dan mencapai puncak di era Al-Ma'mun.
- Awalnya adalah perpustakaan pribadi, namun berubah menjadi pusat peradaban, lembaga pendidikan perguruan tinggi, perpustakaan besar, tempat penelitian, dan biro penerjemahan manuskrip asing (Yunani, Persia, India) ke dalam bahasa Arab.
- Baitul Hikmah menjadi simbol The Golden Age of Islam yang melahirkan banyak karya orisinal dan menghubungkan pemikiran terbuka ke seluruh dunia.
Kontribusi Ilmuwan
Daulah Abbasiyah melahirkan pembagian Ilmu Naqli (agama) dan Ilmu Aqli (sains/filsafat).
- Kedokteran: Ibnu Sina / Avicenna (buku Al-Qanun fi Ath-Thibb jadi rujukan Eropa), Ar-Razi.
- Matematika & Astronomi: Al-Khawarizmi (Bapak Aljabar & penemu Algoritma), Al-Fazari (penemu Astrolabe), Al-Biruni.
- Filsafat: Al-Kindi, Al-Ghazali (penulis Ihya Ulumuddin), Al-Farabi.
- Agama: Lahirnya 4 Imam Mazhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, Hambali), ulama hadis pencipta Kutubus-Sittah (Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dll), dan ulama tafsir (At-Thabari).
Desentralisasi Kekuasaan
- Berbeda dengan Umayyah, Abbasiyah menerapkan sistem pengelolaan pemerintahan Desentralisasi (An-Nidhamul Idary Al-Markazy).
- Kekuasaan tidak hanya terpusat pada satu pihak. Wilayah Abbasiyah dibagi menjadi beberapa provinsi (Imarat) yang dipimpin oleh seorang Gubernur.
- Para gubernur diberikan hak otonomi terbatas. Tingkat di bawahnya, kepala desa (Al-Qurra) juga diberi kebebasan mengurus wilayahnya.
- Khalifah dibantu oleh Wazir (perdana menteri) dan banyak Diwan (Departemen), seperti Diwan Militer, Keuangan, Keadilan, dll.
Runtuh Abbasiyah
Disebabkan oleh 2 faktor utama:
- Faktor Internal: Perebutan kekuasaan antar keluarga (seperti Al-Amin vs Al-Makmun), gaya hidup khalifah yang foya-foya dan korup, kondisi ekonomi negara yang tidak stabil, serta banyak wilayah provinsi (seperti di Spanyol, Mesir, India) yang mendeklarasikan kemerdekaan lepas dari Baghdad.
- Faktor Eksternal:
- Perang Salib: Serangan umat Kristen Eropa yang memakan korban jiwa dan menghancurkan perekonomian serta pendidikan selama kurang lebih 2 abad.
- Serangan Tentara Mongol: Dipimpin oleh cucu Genghis Khan (Hulagu Khan) pada tahun 1258 M. Mereka menghancurkan kota Baghdad, meruntuhkan Baitul Hikmah, membuang buku-buku ke Sungai Tigris, dan membunuh khalifah terakhir (Al-Musta'sim), menandai runtuhnya peradaban Abbasiyah secara mutlak.
Toleransi Sosial
- Pada masa Abbasiyah, tidak ada perbedaan kelas yang mencolok antara muslim Arab dan non-Arab (Mawali).
- Masyarakat non-muslim (Dzimmi) juga hidup berdampingan secara damai dan adil di bawah pemerintahan khalifah. Bangsa non-Arab (seperti keluarga Barmak) memegang peranan penting di pemerintahan.
Madrasah Nizamiyah
- Merupakan salah satu lembaga perguruan tinggi atau kota pendidikan yang dibangun pada masa Daulah Abbasiyah (bersama dengan Universitas Al-Mustansiriyah).
- Tempat bernaungnya guru besar seperti Imam Al-Ghazali. Menjadi bukti pesatnya fasilitas pendidikan, dari tingkat dasar (Kuttab) hingga perguruan tinggi.
Metode Ilmiah
- Kemajuan ilmu didorong oleh pemikiran kritis dan pendekatan rasional / eksperimen (berbeda dari masa Umayyah yang lebih fokus ke sastra/Arab).
- Ulama Hadis menggunakan metode ilmiah dalam menyeleksi hadis (memisahkan mana yang sahih, dhaif, maudu'), dengan cara melakukan perjalanan jauh untuk konfirmasi (sanad) dan klasifikasi matan.
- Dalam sains, ilmuwan didorong untuk tidak sekadar menyalin buku Yunani, tetapi melakukan uji coba/eksperimen sendiri, yang melahirkan disiplin ilmu baru seperti kimia modern.
Dampak ke Barat
- Eropa mendapat "sastra dan nyala api peradaban modern" dari Islam (transfer of knowledge).
- Tokoh seperti Abolard Bath, Gerard Cremona, dan kaum Mozarebes meniru pendidikan Islam di Toledo/Cordoba dan menyalin/menerjemahkan buku-buku berbahasa Arab ke dalam bahasa Latin.
- Penemuan-penemuan ini (baik kedokteran Ibnu Sina, maupun filsafat rasional Ibnu Rusyd) menular ke Barat, merangsang lahirnya kebangkitan Eropa dari Abad Pertengahan menuju zaman pencerahan (Renaisans). Ilmuwan Barat mengakui bahwa ilmu kedokteran dan sains mereka berakar dari karya ilmuwan muslim.