Zafran P. W. Pembahasan Kisi-Kisi: Bahasa Indonesia  117 11/25/2025
Pembahasan Kisi-Kisi: Bahasa Indonesia 
Zafran P. W. @zafranm2m November 25, 2025 117 0

1—Teks Laporan Hasil Observasi§

Teks laporan hasil observasi, atau LHO, melaporkan tentang hasil pengamatan suatu objek (orang, peristiwa, tempat, hewan, dan lain-lain).

Teks ini disampaikan apa adanya, dengan data yang didapat pada pengamatan.

Tujuannya untuk memberikan informasi, dokumentasi pengamatan, menambah wawasan.

2—Teks Anekdot§

[!quote] KTP (Abstrak)

Setiap orang tentu berharap layanan publik bisa cepat, praktis, dan efisien. Bayangkan kalau kita bisa mengurus KTP atau dokumen penting dalam hitungan menit saja, pasti menyenangkan, kan? Tapi, apa jadinya kalau layanan ‘super cepat’ itu ternyata justru bikin kita geleng-geleng kepala?

(Orientasi)

Pagi itu, suasana kantor pelayanan masyarakat masih cukup sepi. Seorang pria paruh baya masuk dengan wajah penuh semangat. Ia datang lebih pagi dari biasanya agar bisa mendapat nomor antrean pertama.

Setelah mengambil nomor, tak lama petugas memanggil namanya. Pria paruh baya itu menyerahkan berkas-berkas yang sudah ia siapkan rapi dalam map. “Tolong cepat ya, mas. Saya lagi buru-buru.”

Petugas di balik meja menyambut dengan senyum ramah, memeriksa berkas sebentar, lalu berkata, “Baik, pak, silakan duduk sebentar. Nanti kalau sudah selesai, saya panggil lagi.”

(Krisis)

Tak sampai lima menit, pria itu dipanggil kembali. Ia agak terkejut, tapi sekaligus senang. “Wah, ternyata benar-benar cepat!”, pikirnya.

Petugas lalu menyerahkan selembar kertas sambil berkata, “Ini pak, KTP-nya sudah selesai.”

(Reaksi)

Pria itu segera melihat kertas yang diberikan. Namun, betapa kagetnya ia saat sadar. Kertas itu hanyalah formulir kosong, tanpa foto, tanda tangan, ataupun data dirinya.

Pria itu mengernyitkan dahi lalu bertanya dengan nada bingung, “Lho, ini kok kosong semua, mas? Nama saya aja nggak ada.”

Petugas menjawab dengan tenang seolah tidak ada yang aneh, “Kan Bapak minta layanan cepat. Jadi kami kasih cepat dulu, isinya belakangan.”

Orang-orang di ruang tunggu yang mendengar percakapan itu langsung tertawa. Beberapa bahkan berkomentar, “Wah, ini sih bukan cepat lagi, ekspres banget!”

Pria itu hanya bisa menghela napas panjang sambil menahan senyum kecut.

(Koda)

Akhirnya, pria itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Kadang memang, yang cepat itu belum tentu tepat. Sindiran halus untuk pelayanan publik yang katanya “cepat” tapi seringkali kurang maksimal.


Kenya Swawikanti, “Pengertian Teks Anekdot, Struktur, Ciri, Kebahasaan, dan Contoh,” Ruangguru, diakses 25 November 2025 https://www.ruangguru.com/blog/mengenal-contoh-teks-anekdot

Teks anekdot adalah cerita singkat yang menghibur dan menggelitik. Biasanya berdasar pada cerita nyata.

Tujuannya untuk menghibur, mengkritik, dan menyinggung suatu peristiwa. Ada pesan tertentu di dalamnya. Namun, pesan/kritik yang disampaikan tersirat pada cerita, dan disampaikan dengan lucu. Tidak disampaikan secara langsung, biasanya menggunakan majas ironi, humor, atau sindiran.

3—Teks Eksposisi§

[!quote] Manajemen Pengelolaan Sampah (Tesis)

Sampah dipandang sebagai barang yang tidak berguna. Namun, sampah bisa dijadikan sebagai sumber pendapatan jika dikelola dengan baik. Dengan demikian, sampah dapat menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi. Manajemen pengelolaan sampah telah dilakukan di berbagai tempat.

(Argumen)

Warga Pasar Ciputat, Tangerang, bisa dijadikan contoh. Warga setempat telah berhasil mengolah sampah dengan peralatan yang disediakan pihak swasta melalui perjanjian dengan pihak daerah. Hal senada juga sudah dilakukan oleh warga Kaliabang, Kota Bekasi. Warga serta pengurus RW setempat melakukan pengolahan sampah lingkungan.

Sampah dapur atau sampah rumah tangga diubah menjadi kompos dan pupuk cair. Sampah yang diolah adalah sampah basah langsung oleh warga. Langkah tersebut dilakukan dengan melakukan sosialisasi kepada warga sehingga warga memisahkan sampah basah dan kering. Hasil yang diperoleh bisa mencukupi kebutuhan warga dan lingkungan sekitar. Di samping itu, hasil kompos dijual di instansi pemerintah dan swasta di lingkungan setempat. Produksi kompos dari sampah lingkungan bisa memberi kegiatan yang positif dan pemasukan bagi warga.

(Penegasan ulang)

Berdasarkan contoh-contoh tersebut, pengolahan sampah memang tidak lepas dari keterlibatan warga masyarakat dan peran pemerintah. Masyarakat perlu diajari cara memilah sampah. Peranan pemerintah diperlukan dalam sosialisasi dan pembudayaan. Peran pemerintah juga diperlukan untuk menjadi penghubung ke pihak swasta. Jika pemerintah berhasil menggandeng pihak swasta di dalam penyediaan teknologi pengelolaan sampah, biaya pengolahan sampah dapat ditekan. Peran swasta juga dapat dalam penyaluran dan pembelian produk-produk yang dihasilkan melalui pengolahan sampah.


Kokasih, Bahasa Indonesia SMP/MTs Kelas VIII Edisi Revisi, (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2017)

4—Teks Hikayat§

Hikayat Hangtuah I, 288 halaman, cyuk.

[!quote] Isma Yatim Arkian telah beberapa lamanya dengan demikian, maka Isma Yatim pun mengaranglah pula beberapa hikayat lagi dengan tamsil ibaratnya yang memberi kegemaran dan menambahi akal serta menyukakan hati segala orang yang membacanya dan mendengar dia, karena banyaklah ada di dalamnya itu pengajaran yang membawa faedah pada segala mereka yang berkehendak adanya. Maka dengan membuat hikayat itulah menjadikan murah rezekinya serta limpah makmurlah bagi kedua ibu bapaknya, dikaruniai Allah Swt. dengan anugerah-Nya pada tiap-tiap hari adanya.

Maka tatkala itu masyhurlah namanya akan kepandaian bijaksananya Isma Yatim dan berhimpunlah segala orang yang muda-muda kepadanya belajar ilmu. Hatta maka beberapa lamanya dengan takdir Allah ta'ala datanglah suatu pikiran pada hatinya, “Baiklah, aku mengarang suatu hikayat yang boleh menjadi pengajaran bagi raja-raja.”

Teks hikayat adalah karya sastra lama Melayu berbentuk prosa[^1] yang berisi cerita, undang-undang, dan silsilah. Isinya bersifat fiksi, keagamaan, historis, dan biografis.

Tujuannya untuk pelipur lara (penghilang kesedihan), pembangkit semangat juang, dan beberapa tujuan lain.

Dahulu, ada juga hikayat yang sengaja dibuat untuk mendokumentasi sesuatu, seperti silsilah kerajaan. Ada juga hikayat yang ditulis atas perintah raja. Salah satu tujuannya membuat musuh merasa takut, karena menganggap kerajaannya “perkasa.”

Karena ini sastra lama, tentu memuat kata-kata arkais yang tak lazim digunakan sekarang. Seperti jangat (keranjang), langis (punah), titah (perintah), hulubalang (prajurit), hatta (lalu, sudah itu, maka), dan sebagainya.

Strukturnya ada lima.

  1. Abstraksi, gambaran besar cerita.
  2. Orientasi, pengenalan latar: waktu, tokoh, tempat, suasana, dan lain-lain.
  3. Komplikasi, urutan kejadian menuju puncak masalah.
  4. Resolusi, penyelesaian konflik.
  5. Koda, bagian akhir, biasanya mengandung amanat.

5—Teks Cerpen§

[!quote] Pulang Tri Siswanto menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur segera setelah telepon ditutup. Untuk yang kesekian kali ayahnya menelepon, memintanya kembali ke desa. Membangun desa, begitu kata ayahnya.

“To, setelah kamu selesaikan urusan wisudamu dan lain-lain, segeralah kembali ke desa, bantu Bapak bertani di sawah kita. Bapak dan Ibumu sudah tua. Rasanya sudah tidak sanggup lagi bekerja seperti dulu. Mbakyu-mbakyu-mu sudah diboyong suami masing-masing dan tak mungkin kembali ke desa. Hanya kamu harapan Bapak. Garaplah sawah kita dan beberapa kebun itu. Tinggallah di sini, Nak….” Demikian ayahnya memelas memohon ke pada anak bungsunya itu untuk kembali ke desanya.

Masalahnya Tri tidak mau kembali ke desa dan menggarap sawah, meskipun sebenarnya dia tidak akan macul seperti Pak Karto dan Mas Ipung, para penyawahnya. Mereka yang akan memacul dan sudah punya grup penggarap sendiri yang sudah lebih dari 10 tahun bekerja untuk ayah Tri. Seperti juga ayahnya, nanti Tri hanya akan mejadi pengawas, atur ini itu dan seterusnya.

Tri Siswanto pekan lalu diwisuda di Fakultas Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi. IP-nya 3,7 dengan rata-rata nilai A dan B, tidak ada C. Karena nilai-nilainya yang bagus itulah, sahabatnya Nurman mengajaknya bekerja di Jakarta.

Sebenarnya di Jakarta Pusat itu hanya kantornya. Perkebunan sawit milik ayah Nurman berada di Bengkulu dan Jambi kurang lebih 500 hektar. Nurman memang tidak menjanjikan besaran gaji yang akan dia terima, tapi dia bilang untuk pegawai awalan dengan nilai kuliah seperti dirinya tak kurang dari lima belas juta per bulan bisa dia terima, disediakan mes serta kendaraan dobel gardan jika dia ke kebun. Tawaran itu membuat Tri seakan tak punya keinginan lain selain itu.

Dan bekerja di Jakarta itu membuat dirinya seakan melambung tinggi. “Jakarta, bro, kota dengan sejuta kemajuan dan kehebatan atas nama metropolitan. Siapa yang tak terobsesi hidup di Jakarta?” Mereka yang tak punya pekerjaan saja berani nekat ke Jakarta karena harapan materi dan gengsi yang banyak didengungkan-dengungkan orang, apalagi Tri berangkat ke Jakarta dengan jaminan mapan.

Ayahnya pensiunan perusahaan perkebunan pemerintah. Namun, selain jadi pegawai pemerintah, juga memiliki sebidang sawah seluas 15 ribu meter persegi dan dua bidang lahan tadah hujan yang ditanami palawija dan umbi semusim, warisan kakeknya. Hanya dari penghasilan dua lahan itu ayahnya sanggup menyekolahkan dia dan dua orang mbakyunya hingga selesai perguruan tinggi tanpa susah payah. Semua selesai hingga sarjana dan bekerja di Bekasi dan Yogyakarta. Semua jadi PNS.

Tri anak bungsu dan satu-satunya laki-laki. Sekolahnya sejak dasar hingga selesai sarjana tidak pernah terkendala biaya, termasuk bayar kos satu setengah juta sebulan dan sebuah motor yang lebih sering berada di garasi kos daripada dia pakai. Kampusnya di Jatinangor bisa dia tempuh dengan jalan kaki.

Pikirannya bimbang, campur aduk antara kasihan kepada ayahnya dan obsesi dirinya menjadi bagian dari dinamika eksekutif di kota besar yang sering dia lihat di televisi-televisi itu, clubbing, pergaulan komunitas, canda tawa dengan gadis-gadis cantik manajer menengah perusahaan-perusahaan start up, fashion, dan segala kecanggihan bahasa gaul membuatnya seperti laron terhadap lampu, terobsesi.

Sementara desanya di Sleman sana dengan hamparan sawah, kebun-kebun, dan sungai-sungai mengalir terasa sangat membosankan.

“Kapan aku bisa berpakaian bermerek, bersepatu keren dan berdasi jika pekerjaanku jadi petani? Paling-paling pakaian kerjaku celana pangsi atau paling bagus jeans belel, baju kaos yang tak mungkin berdasi dan sepatu? Sepatu bot plastik itu, lepas sepatu bot ya pakai sandal. Membayangkan itu dia tersenyum kecut.”

“Oh iya, Nak, ada kabar baik untukmu, kemarin sore sepulang dari masjid si Harjono temanmu SMP dulu datang ke Bapak. Katanya dia minta tolong dicarikan tenaga ahli pertanian yang mampu membimbing kelompok tani desa kita untuk menjadi petani-petani yang mampu mengelola limbah, beternak, dan membuat mesin-mesin pengolahan home industry karena dia baru saja mendapatkan pengelolaan lahan bekas perkebunan yang sudah tidak jalan. Itu di daerah Purwomartani ke arah Kalasan. Bagaimana lengkapnya Bapak kurang paham. Bapak kira kamu mampu menangani itu.”

Tri sedikit tersenyum membayangkan Harjono anak Pak Lurah Muji, dulu waktu kecil mereka sering mandi-mandi di kali dan menyerok ikan di ceruk-ceruk sungai, Harjono badannya gempal dan berkulit hitam, tapi hatinya baik. Dia selalu berada di sebelah Tri ke manapun mereka bermain, Harjo selalu bertanya tentang apa pun kepada Tri karena dia menganggap Tri anak pandai, kutu buku dan kalau bicara memukau. Harjo kadang bertanya ke Tri sekadar ingin menikmati cara berbahasa Tri dalam menerangkan sesuatu.

Harjono tak hadir sewaktu Tri berpisah melanjutkan sekolah SMA ke Yogya. Katanya dia tak kuat berpamitan. Tri hanya tertawa.

Jam belum menunjukkan pukul 9.00, tetapi matahari telah bersinar sedemikian garang. Panasnya terasa sampai di dinding kamar kos Tri. Dia nyalakan pendingin ruangan dan bersiap-siap mandi. Dia nyalakan laptop, menyambar handuk, dan menuju kamar mandi.

Itu cara umum mahasiswa karena menyalakan komputer hingga ready internet paling tidak 5–10 menit. Keluar kamar mandi dia sudah langsung online. Selesai mandi dia sudah duduk di depan laptop, WhatsApp, Facebook, Twitter, Instagram berturut-turut opening. Dia berselancar sejenak, lihat-lihat grup.

Nurman muncul di WhatsApp, “Bro apa kabar, siap-siap minggu depan aku jemput, kita ke Bengkulu. Siapin baju untuk satu pekan.”

It's all about time…,” Tri menggumam.

Notifikasi Youtube muncul, ceramah salah satu ustaz dari Sulawesi. Ceramahnya lugas, lantang, dan tak ragu menggunakan kata-kata keras khas Sulawesi.

“Biar kalian berilmu tinggi, biar kalian punya mobil berderet-deret, tapi kalau kau tak memuliakan orang tuamu jangan harap surga terbuka untukmu. Bodoh kalian kalau punya kesempatan merawat orang tuamu tapi kau tolak, Dongok kalian. Bodoh kalian. Itu kunci surga, itu cara masuk surga paling mudah. Kau rawat orang tuamu, Allah yang urus duniamu.” Luar biasa Pak Ustaz kasih wejangan, benar-benar khas orang Bugis, menohok, menghantam relung-relung halus dalam hati.

Tri terpaku terus menonton ceramah ustaz itu. Tangannya tak mampu mengeklik tombol setop. Dirinya terus mengikuti ceramah itu hingga selesai. Perlahan ujung- ujung matanya berair, terbayang olehnya bapak dan ibunya yang mulai menua dan makin melemah tubuhnya.

Tri membiarkan sebuah proses mengisi hati dan pikirannya dengan hal-hal yang selama ini dia sangkal dan sekarang dia biarkan pemahaman-pemahaman baru itu meresap ke dalam hati dan pikirannya.

“Apa yang kau cari di Jakarta? Apa yang kau cari di dunia ini? Apa yang kau harapkan dari kepintaranmu? Apakah kau gunakan untuk memenuhi kepuasanmu atau kau gunakan untuk membimbing mereka yang memerlukan pencerahan ilmu pengetahuan?” Jiwanya berkecamuk, hatinya gundah, dan pikirannya tak menentu. Tri merasa badannya lemas, lelah, dan dia tertidur.

Suara azan lewat pengeras suara bergema mendengung di telinga Tri. Dia terbangun dan tersentak. Refleks dia lihat jam di atas meja, dua belas kurang sepuluh, waktunya Zuhur. Dia sigap bangun dan duduk di tempat tidur, pikirannya sudah agak tenang.

Apa yang menjadi kegundahannya perlahan telah mulai mengendap, mengendap, dan mengkristal. Sekarang dia mempunyai dua pilihan yang sama-sama kuat. Pulang dan meneruskan usaha tani keluarganya atau berangkat ke Jakarta dan men jadi manajer perusahaan sawit. Pilihan yang satu adalah tentang kesederhanaan dan pilihan yang satunya lagi tentang gemerlap metropolitan yang memukau.

Dia beranjak dan segera ambil air wudu, salat Zuhur. Selesai salat, pikirannya masih bimbang, tetapi dia lanjutkan berzikir, 'ala biżikrillāhi tatma'innul qulb. Dia membutuhkan ketenangan. Sudah jelas pulang ke desanya adalah pilihan terbaik yang harus diambilnya. Tapi, satu sisi pikirannya tetap ingin bekerja di Jakarta dengan segala gemerlapnya metropolitan yang memukau.

Dan telepon berdering lagi, di seberang sana suara ayahnya.

“Nak, pulanglah segera, tadi pagi ibumu dilarikan ke puskesmas, tekanan darahnya naik. Ibumu sempoyongan dan hampir jatuh, tapi sekarang sudah baikan. Pulanglah, tengoklah Ibumu.”

Tri kaget, terkesiap, tetapi dia segera menemukan jawaban.

“Baik Pak, aku segera pulang, naik kereta sore ini, aku segera cari tiket. Doakan aku dapat tiket.”

Tri sudah tidak konsentrasi lagi pada apa yang diucapkan ayahnya. Segera dia berganti pakaian menyambar kunci motor dan siap melaju memesan tiket.

Allah sudah kasih peringatan padaku, jangan sampai aku kehilangan kesempatan memiliki kunci surga. Akan kupergunakan selama mungkin kesempatan ini. Begitu pikirnya.

Sepeda motor menderu, angin bersibak menerpa wajahnya dan perlahan-lahan menghapus obsesi menikmati kecantikan dan godaan metropolitan.


OJ Hara, “Pulang,” Republika, diakses 25 November 2025, https://republika.co.id/berita//qdqs3k282/pulang-cerpen-part2

Teks cerpen adalah karya sastra berbentuk prosa fiksi. Bedanya dengan novel apa? Novel panjang.

Karakteristiknya sebagai berikut.

Tujuan utamanya adalah menghibur.

Ada beberapa majas yang digunakan pada cerpen, berikut beberapa.

  1. Majas metafora, membandingkan dua hal berbeda untuk menunjukkan kemiripannya, tanpa kata ‘seperti,’ ‘bagaikan.’ Contohnya kutu buku, gulung tikar, buah tangan.
  2. Majas simile, menyamakan dua hal berbeda, tetapi secara eksplisit menulis kata hubung ‘seperti,’ ‘bagaikan,’ dan lain-lain. Contohnya
    • “Wajahnya bersinar laksana rembulan malam.”
    • “Sikapnya dingin seperti es batu.”
  3. Majas personifikasi, memanusiakan yang bukan manusia, sehingga objek memiliki sifat layaknya manusia. Contohnya
    • “Angin berbisik di telingaku.”
    • “Pohon demi pohon menundukkan kepala.”

[^1]: Prosa adalah cerita berbentuk narasi. Contohnya cerpen, hikayat, novel, dongeng, dan sebagainya.