1—Sifat Allah ﷻ
| Sifat | Arti |
|---|---|
| Wujūd | Ada |
| Qidām | Terdahulu |
| Baqā | Kekal |
| Mukhālafaŧu lil-ḥawādiṡ | Berbeda dengan makhluk-makhluk |
| Qiyāmuhū binafsih | Berdiri sendiri |
| Waḥdāniyaħ | Esa |
| Qudraħ | Kuasa |
| Irādaħ | Kehendak |
| ’Ilm | Pengetahuan |
| Ḥayāħ | Kehidupan |
| Sama’ | Pendengaran |
| Baṣar | Penglihatan |
| Kalām | Firman |
| Qādiran | Yang Maha Berkuasa |
| Murīdan | Yang Maha Berkehendak |
| ’Āliman | Yang Maha Mengetahui |
| Ḥayyan | Yang Maha Hidup |
| Samī’an | Yang Maha Mendengar |
| Baṣīran | Yang Maha Melihat |
| Mutakalliman | Yang Maha Berfirman |
Sifat-sifat Allah Swt. terbagi 4:
- Nafsiyah, tentang Zat Allah.
- Salbiyah, yang menentang sifat-sifat tidak sesuai.
- Ma’ānī, yang berkaitan dengan pancaindra.
- Ma’ānī berbentuk ism maṣdar, yaitu kata benda yang bermakna perbuatan. Misalkan “pertolongan” dari kata “tolong”.
- Ma’nawiyah, yang me-“maha”-kan sifat ma’ānī.
- Ma’nawiyah berbentuk kata sifat, bukan kata benda.
- (1MJD, 7MJD) Pernyataan yang sesuai dengan sifat wajib Allah Swt..
- (5, 6) Sifat wajib Allah Swt. yang sesuai teks.
- (8BS) Berkaitan sifat ‘Ãliman, Samī’an, Qadīran;
(9BS) Berkaitan sifat Baṣar, Kalām, Ḥayāħ, Ḥayyan, Baṣīran.
2—Asmaulhusna
| Asmaulhusna | Arti (Maha …) |
|---|---|
| Al-Karīm | Dermawan |
| Al-Mu`min | Mengaruniakan Keamanan |
| Al-Wakīl | Pemelihara/Mengurus |
| Al-Matīn | Kokoh |
| Al-Jāmi’ | Mengumpulkan |
| Al-Ḥafīẓ | Pemelihara/Menjaga |
| Ar-Rāfi’ | Meninggikan |
| Al-Wahhāb | Pemberi Karunia |
| Ar-Raqīb | Maha Mengawasi |
| Al-Mubdi` | Memulai |
| Al-Muḥy | Menghidupkan |
| Al-Ḥayy | Hidup |
| Al-Qayyūm | Mandiri |
| Al-Ākhir | Akhir |
| Al-Mujīb | Mengabulkan |
| Al-Awwal | Awal |
- (2MJD) Pernyataan yang sesuai dengan Asmaulhusna.
- (3BS) Berkaitan dengan Al-Karim, Al-Mu'min, Al-Wakil, Al-Matin, Al-Jami’.
- (4) Tafsir ayat Al-Qur'an tentang Ar-Raqib;
(10) Tafsir ayat Al-Qur'an tentang Al-Mujīb, Al-Akhir, Al-Hayyu, Al-Wakīl, Ar-Rafi’. - (11MJD) Menghubungkan Al-Qur'an dengan Asmaulhusna
- (12BS) Kaitan bencana dengan Al-Jami’.
- Dengan adanya bencana, manusia terpaksa untuk bersatu di suatu tempat, saling membantu, dan gotong royong.
- (13BS) Tentang Ar-Raqīb.
- Tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa pengawasan Allah Swt..
- Dalilيٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءًۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.
- (14MJD) Tindakan remaja berkaitan Al-Hafiz.
- (15) Perilaku mencerminkan Ar-Rāfi’.
- Tidak merendahkan orang lain.
- Menempatkan diri sendiri dengan baik. Jangan merendahkan jati diri.
- Berbaik sangka.
3—Akhlak Terpuji
Ada 4 perbuatan yang dibahas.
3.1—Ḥikmaħ
Berasal dari kata ḥakīm yang artinya bijaksana.
Bijaksana adalah perbuatan yang dapat membedakan benar dan salah, atau hak dan batil.
يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِDia (Allah) menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang dianugerahi hikmah, sungguh dia telah dianugerahi kebaikan yang banyak. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (darinya), kecuali ululalbab[^1].
[^1]: Ululalbab adalah orang-orang yang memliki akal sehat.
3.2—’Iffaħ
Artinya menjauhkan diri dari yang tidak halal.
Tidak sebatas dari yang haram saja, ’iffah juga menjauhkan perbuatan yang merendahkan martabat.
Contohnya.
- Memelihara syahwat dari yang haram.
- Menghindari meminta-minta.
- Jujur.
3.3—Syajā’aħ
Artinya berani. Berani bertindak, berbicara untuk keadilan, memberantas kebatilan, dan lain-lain.
Syajā’aħ terbagi 2, harbiyah dan nafsiyah.
- Syajā’aħ Harbiyah (Ofensif)
- Berani “menyerang” atau “melawan” untuk menegakkan keadilan dan memberantas kemungkaran.
- Syajā’aħ Nafsiyah (Defensif)
- Bertahan dari “serangan” mungkar.
- Berani untuk menjauhkan perbuatan yang bertentangan dengan agama.
- Walaupun jika kita meninggalkan perbuatan itu kita dicemooh.
3.4—’Adālaħ
Artinya adil, menempatkan sesuatu pada tempatnya, tidak memihak, dll..
Adil kepada siapapun, walaupun mereka kerabat dekat kita, adalah contoh perbuatan ’adālaħ.
- (16) Tindakan remaja dan strategi berdasarkan teks.
- (17BS) Pernyataan tentang macam-macam syajā’ah.
- Lihat di atas.
- (18MJD) Hubungan sifat remaja dengan sifat akhlak terpuji: ’iffah dan ’adālaħ.
- (29MJD) Hubungan tindakan siswa dengan prinsip keutamaan akhlak.
- (30BS) Terkait QS. Aż-Żāriyāt: 56.وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.
4—Adab
Masa tidak tahu adab kepada orang tua dan guru ….
- (19BS, 20) Kewajiban anak terhadap orang tua.
- (21MJD) Hubungan makna dan adab kepada guru.
- (22BS) Sikap Harun Ar-Rasyid terhadap guru.
- Menghormati dan memuliakan guru.
- Harun Ar-Rasyid menyuruh putranya untuk mencuci kaki gurunnya.
- Mendengarkan nasihat guru.
- Menekankan pentingnya guru dan pendidikan.
- Menghormati dan memuliakan guru.
- (23MJD) Hadis dan konteks adab kepada guru di era modern.
- HR. Abu Daud dan HR. Ṭabrani
Dari Abdullah bin Umar,
Rasulullah Saw. bersabda, “…; dan jika ada orang yang memberimu, maka balaslah pemberian itu, jika tidak bisa membalasnya, maka doakanlah ia, sehingga kamu memandang telah cukup membalas kebaikan tersebut.”
- HR. Abu Daud dan HR. Ṭabrani
5—Islam Wasatiah
Berasal dari kata wasaṭ yang bermakna tengah-tengah.
- I’tidal (tegak)
- Teguh pendirian.
- Tawassuṭ (moderat)
- Sikap kepemimpinan tengah-tengah.
- Tidak terlalu keras, tidak terlalu bebas.
- Tidak berbahaya dan tidak membahayakan.
- Tawāzun (imbang)
- Imbang dalam praktek ibadah.
- Imbang dalam ibadah vertikal (dengan Allah) dan horizontal (dengan manusia).
- Tasāmuḥ (toleran)
- Saling menghargai perbedaan.
Kebalikan dari wasatiah adalah ekstremisme (taṭarruf) yaitu melewati batas syariah. Ada juga radikalisme, yaitu aliran yang ingin perubahan dengan waktu yang singkat dengan segala cara, termasuk kekerasan.
Terorisme adalah sikap yang menciptakan rasa teror/takut untuk mencapai suatu tujuan politik.
- (24) Perilaku yang mencerminkan sikap taṭarruf.
- Berlebihan dalam agama.
- Kaku, hanya mengandalkan teks suci tanpa melihat situasi/kondisi.
- Kebenaran tunggal, selain mereka salah semua.
- Suka mengkafirkan kelompok lain.
- Kekerasan.
- Mudah berburuk sangka terhadap kelompok lain.
- (25) Perwujudan aspek Islam Wasatiah yang tepat.
- (26BS) Tentang Islam Wasatiah.
- (27MJD) Hubungan perilaku dengan nilai Islam Wasatiah
- (28) Ciri-ciri sikap radikal.
- Menurut buku Moderasi Beragama.
- Melakukan perubahan pada sistem sosial/politik dengan cara kekerasan atas nama agama.
- Menginginkan perubahan pada tempo yang singkat.
- Terorisme.
- Ketidakadilan.
- Tidak akomodatif terhadap budaya.
- Menurut buku Ilusi Negara Islam.
- Menganut absolutisme terhadap pemahaman agama.
- Tidak toleran terhadap pandangan lain.
- Berperilaku memaksa pandangan terhadap orang lain.
- Memusuhi orang lain karena beda pandangan.
- Melarang pemahaman/keyakinan berbeda.
- Membenarkan kekerasan terhadap perbedaan pemahaman.
- Menolak Pancasila menjadi landasan hidup bangsa.
- Menurut buku Moderasi Beragama.