PENDAHULUAN
Langit sering kita anggap sebagai sesuatu yang akrab dan mudah ditebak. Namun, dibalik kesan sederhana itu, atmosfer Bumi adalah panggung raksasa tempat hukum fisika dan kimia saling terjalin dalam cara yang kerap menghasilkan paradoks. Hal yang terlihat sederhana, padahal mengandung kompleksitas fisika yang tidak kasat mata. Dengan memahami paradoks ini, cuaca tidak akan lagi terlihat sebagai rutinitas harian, tetapi sebagai representasi dari keseimbangan yang rapuh dan menakjubkan dari Sistem Bumi.
ANTARTIKA TETAP DINGIN MESKIPUN DISINARI MATAHARI SELAMA 24 JAM
Antartika terletak di BBS, dimana akan terjadi peristiwa midnight sun yaitu matahari tidak terbenam hampir 24 jam. Peristiwa ini terjadi pada sekitar tanggal 21 Juni, akibat kemiringan sumbu bumi sebesar 23,5 derajat Logikanya, siang terus harusnya panas. Faktanya, suhu tetap bisa dibawah 0 derajat Celcius. Beberapa alasan ilmiah dibalik ini adalah:
Sudut Datang Cahaya Matahari Sangat Rendah
Di wilayah kutub, matahari berada sangat miring di horizon. Energi yang datang tersebar di area yang lebih luas sehingga intensitas per meter persegi jauh lebih kecil dibanding daerah tropis Seperti senter yang kita pancarkan sinarnya tegak lurus suatu bidang dan, maka intensitas cahaya yang diterima permukaan akan lebih besar daripada sinar yang kita pancarkan dengan miring. Semakin miring senternya, akan semakin luas daerah yang terkena cahaya, namun energi akan lebih tersebar.Albedo Es Sangat Tinggi
Albedo adalah rasio antara energi yang dipantulkan dibanding energi yang diterima. Permukaan es Antartika memiliki albedo 80-90%. Artinya, hampir seluruh energi yang diterima es akan dipantulkan kembali ke atmosfer.Atmosfer Sangat Kering
Udara di Antartika sangat miskin uap air. Padahal uap air adalah gas rumah kaca alami. Tanpa banyak uap air, panas mudah lepas kembali sebagai radiasi inframerah